Panggilan Sejarah kepada Para Alumni HMI​
KOMENTAR

by Sepeda man

TIDAK ada masa yang lebih kritis dari era sekarang ini bagi HMI. Rumah tua alumni HMI tempat mereka tumbuh besar dalam pikiran dan karakter itu kini menjelang runtuh, karena terjadi kehancuran moral luar biasa.

Tradisi berpikir, keilmuan dan karakter akademisi di masa-masa  yang lalu seperti lenyap begitu saja oleh sapuhan materi dan mungkin juga  kemaksiatan.

Sementara itu ada indikasi oknum-oknum alumni  HMI bahkan yang paling senior di era ini menjual HMI dengan harga yang tidak bermartabat sama sekali.

Ada juga oknum yang menelikung HMI dan alumninya,  tentu saja untuk kepentingan  pribadi yang mudah dibaca maksud dan tujuannya, tapi jelas merusak tatanan, karena membuat organisasi tandingan satu-satunya wadah alumni, KAHMI.

Nama Keluarga Besar Alumni (KBA)  HMI tiba-tiba muncul di mana-mana, terbaca di spanduk-spanduk kegiatan di daerah-daerah, di situ tertulis kerja sama antara KB HMI dan KAHMI. Organisasi alumni HMI kemudianpun menjadi dua.

Program-program  yang merupakan bagian KAHMI di garapnya mungkin karena KAHMI dianggap tidak mampu melakukannya,  mengumpulkan doktor, profesor dan anehnya para profesor-profeskr dan doktor itu ikut saja seperti bebek tanpa daya kritis.

Mereka didata, diarahkan tanpa sebab musabab,  profesor-profesor  dan doktor itu tidak menyadari  bahayanya bagi karir mereka. Terutama yang berkarir di instansi tertentu, karena nama mereka di jembreng di grup-grup WA.

Misalnya Ketum salah satu ormas Islam terbesar sudah mendeclare bahwa jabatan-jabatan tertentu harus orang ormas tersebut, Salahudin Wahid sudah menyebut bahwa kementerian agama adalah layak menjadi jatah ormas Islam besar tersebut.

Lalu bagaimana karir teman-teman  guru besar itu yang berkiprah di UIN misalnya, mudah sekali untuk disingkirkan dari posisi strategis.

Belum lagi bila data itu jatuh ke tangan intelijen tertentu dengan maksud tertentu, bisa-bisa jadi  data  profesor dan doktor alumni HMI itu jadi komoditi empuk.

Kegiatan jalan sehat dibawa ke orientasi tertentu, membuat proyek-proyek yang bercita rasa proposal pencarian dana, jalan sehat bersama pejabat, jalan sehat nasional di berbagai daerah yang sangat mungkin tidak ada kaitannya dengan KAHMI pusat .

Musim panas  tentu sangat cocok untuk berjualan es. Maka di musim pilpres seperti sekarang ini sangat cocok berjualan HMI dan alumninya.

Grup-grup  WA alumni HMI dikreasi menjadi grup-grup  pendukung Jokowi dan grup pendukung Prabowo, sungguh sangat teganya, bahwa hanya untuk kepentingan temporer HMI dan alumninya dibelahnya seperti orang memecah es dengan besi yang sangat tajam.

Alumni menjadi tidak nyaman dengan pembelahan ini, “tapi inilah dagangan”, karena point dari AT cukup saja bila dia dapat memecah es.

Apapun narasi di atas, HMI saat ini membutuhkan pengawalan dari alumninya yang berintegritas dan masih mencintai HMI, melepaskan HMI dari alumni HMI yang menjadi mucikari-mucikari itu.

HMI bukanlah organisasi yang punya orang tua seperti organisasi kemahasiswaan lainnya, tanggung jawab moralnya pengawalannya adalah di tangan para alumninya.

Berbuatlah sesuatu jangan membuang waktu karena bila terlambat menjadi buntu.

Para alumni dan adik-adik HMI saling merapatlah!, carilah informasi tentang apa yang sedang terjadi di rumah besar kita tercinta ini, kemudian rumuskanlah apa-apa tentang masa depan.

Percayalah di antara kesulitan pasti ada kemudahan, kita jalan sudah terlalu panjang dan telah menghadapi masa-masa sulit, dari mulai era kemerdekaan, orde lama, orde baru. Tapi sadarilah di era inilah yang paling berat karena yang kita lawan adalah diri kita sendiri.

Komaruddin Rachmat

Potret Penegakan Hukum Kita

Sebelumnya

Lima Tahun Sepak Terjang

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Gelitik