Ketua Presidium KAHMI Jateng: Jiwa Lafran Pane Harus Terus Ada di HMI
Ketua MW KAHMI Jawa Tengah Wahid Dasuki saat pidato di acara penutupan Intermediate Training di Semarang, Selasa (5/2/2019).
KOMENTAR

TILIK.ID, Jakarta — Koorintor Presidium Korps Alumni HMI (KAHMI) Jawa Tengah Ir H Wahid Dasuki MSc mengajak kader-kader HMI, terutama di Semarang dan Jawa Tengah untuk mengedepankan jiwa intelektual. 

Ajakan Wahid itu disampaikan dalam pidatonya ketika menutup Intermediate Training tingkat  nasional yang diselenggaran HMI Cabang Semarang di Balai Diklat Naker Jawa Tengah di Semarang, Selasa (5/2/2019).

Intermediate Training itu diikuti 40-an peserta mulai dari Aceh sampai Papua.  Selain intermediate training, juga ditutup secara bersamaan Latihan Khusus Kohati (LKK). 

Acara itu juga dirangkaikan dengan peringatan Milad ke 72 HMI yang tepat jatuh pada hari ini, 5 Februari 2019. Hadir di acara itu mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang yang juga mantan Ketua Umum PB HMI Ferry Mursyidan Baldan.

Wahid Dasuki menekankan, jiwa intelektual itu adalah jiwa analisis kita diasah, jiwa inovasi kita diperluas, sehingga kader-kader HMI tidak terkooptasi pada pikiran-pikiran sempit.

“Justru HMI harus bisa jadi pemersatu umat. Kita juga harus cerdas menyikapi peta politik yang ada, harus cerdas dalam menyikapi keberadaan sosial kemasyarakatan yang ada,” katanya.

Pada tahun politik ini, kata Wahid Dasuki, gunakanlah posisi sebaik-baiknya, dengan analisa yang tajam, dengan pertimbangan yang matang. 

“Secara organisasi, HMI adalah independen. Tapi justru kita harus jadi motor bagaimana menggerakkan masyarakat untuk menuju yang lebih baik kedepan,” katanya.

Wahid juga mengajak kader-kader HMI untuk tidak berhenti menggelar training-training. Karena hasil dari training itu yang akan menikmati adalah KAHMI.  Karena anggota HMI adalah raw material KAHMI. 

“Lima atau 10 tahun mendatang yang akan memimpin KAHMI adalah adik-adik semua. Jadi bahan bakunya KAHMI itu dari HMI,” katanya.

Jadi, tambah dia, kalau HMI sudah melempem, tidak punya jiwa patriotis,  jiwa Lafran Pane sudah tidak ada, maka  bisa jadi KAHMI  lima atau 10 tahun kedepan akan hilang. 

“Pelatihan ini adalah bekal. Saudara juga punya tanggungjawab  besar untuk memajukan KAHMI di masa depan.  Saudara itu masa depan. Masuk HMI adalah pilihan, menjadi KAHMI adalah kewajiban,” kata Wahid.  (cil)

MN FORHATI Kembali Tegaskan Menolak Pengesahan UU P-KS

Sebelumnya

Dikecam Pendukung, Ini Pernyataan Prabowo di Akun Instagramnya

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Nasional