CILETUH YANG MENYENTUH
KOMENTAR

by Komaruddin Rachmat

TANGGAL  4 sampai 6 Januari 2019 saya mengikuti touring ke Ciletuh Sukabumi yang diselenggarakan oleh KAHMI Forever Jalan Sehat (KFJS) Jakarta yang merupakan pusatu KFJS se Indonesia.

KFJS yang  digagas trio Alumni HMI ( Afni Ahmad, Heppy  Bone Zulkarnaen dan Tigor Sihite) yang telah terigister di Kemenkumham itu, kini telah mulai menemukan model kegiatannya.

Saya beberapa kali pernah mengikuti touring yang diselenggarakan kantor ketika masih dinas, tapi yang ini berbeda. Pertama,  karena touring dibayang-bayangi oleh  tsunami Selat Sunda bahkan ramalan BMKG menyatakan pada waktu itu Sukabumi terutama Ciletuh akan diguyur hujan dengan cuaca buruk. 

Kedua dalam beberapa touring yang saya ikuti info tentang akomodasi sesuai dengan kenyataan, tapi yang ini berbeda,  lebih jelek dari yang dibayangkan.

Untuk yang pertama saya mengambil sikap coomitment terhadap diri, bahwa mati dimanapun bisa terjadi dan karenanya saya tetap berangkat meskipun anak saya beberapa kali menelpon saya agar saya membatalkan ikut touring ke Ciletuh.

Untuk yang kedua saya mengambil langkah cepat beradaptasi dengan situasi baru terutama dengan kondisi toilet yang harus jongkok.

Hasilnya alhamdulllah, segala kehawatiran sirna karena udara begitu cerahnya dan jalan sehat di Ciletuh dan kunjungan-kunjungan ke objek wisata sesuai rencana.

Problem toilet,  tertutup oleh kegembiraan luar biasa, karena saya betul-betul menikmati senda gurau dan candaan teman-teman semua. Meski neng Jumrana terus saja meminta kepada saya agar saya bersuara juga, ber cuit-cuit seperti yang lainnya tapi saya diam saja, karena saya hawatir bila saya ikut nimbrung dalam candaan bisa mengganggu suasana. Intinya saya tidak percaya dirilah. “Susah amat ngomongnya ya”.

Saya betul-betul menikmati perjalanan, karena setiap mobil dilengkapi HT, saya pikir kita hanya bisa bercanda bila hanya dalam satu bus saja, tapi ini meski di mobil yang berbeda kita masih bercanda rupanya.

Dari semua peristiwa di Ciletuh yang mengesankan itu, ada satu hal yang menarik perhatian saya yaitu keakraban dan persahabatan. Berbeda dengan acara rekreasi lainnya yang pernah saya ikuti, biasanya setelah berakhir terus bubar dan mungkin akan ketemu rekreasi setahun lagi atau lebih lama lagi dari itu.

Tapi ini tidak, pertemuan dilanjutkan ke hari-hari berikutnya, jalan-jalan sehat, pertemuan-pertemuan bisnis, interaksi pemikiran yang melahirkan ide-ide kreatif.

KFJS  telah menemukan model kegiatannya, yaitu menjadi sarana yang efektif untuk pertemuan alumni dan menjadi gerakan kultural. Tapi di balik itu pertemuan melahirkan gagasan-gagasan berikutnya.

Di KFJS  setiap alumni berkesempatan mencari sahabat atas dasar kesamaan ide, kesamaan pemikiran.

KFJS  menjadi murni sebagai gerakan kultural, tapi di balik itu adalah gerakan penguatan kualitas alumni dan juga kualitas masyarakat.

KFJS  tidak boleh digiring-giring giring ke arah politik, apalagi gerakan proposal untuk mencari duit. Karena hal seperti itu adalah kelakuan ketika mahasiswa bukan alumni.

Pendapat di atas berkesesuaian seperti yang disampaikan Afni Ahmad sang pendiri, bahwa sebaiknya KFJS dibiayai oleh dari kita untuk kita.

Karena itu budaya patungan harus selalu dibangun dalam setiap kegiatan KFJS.

KFJS  tidak boleh ada struktur apalagi ketua, kegiatannya hanya jalan sehat dan silaturahmi.

Para alumni HMI dituntut untuk mencari masa lalunya yang mungkin hilang akibat kesibukannya. Hal seperti ini adalah naluri dan jangan dibunuh.

KFJS  adalah tempatnya. Ayo jalan sehat, bersahabat dan mengaktualisasikan diri, dan  di antara kita saling menguatkan satu dengan yang lainnya. 

KFJS Jakarta Jalan Sehat dan Diskusi Lagi

Sebelumnya

Jalan Sehat KFJS Jakarta Jelang Ramadhan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Gaya Hidup