Pertarungan Parpol  di Pemilu 2019, Tiga Besar Dipegang PDIP,  Gerindra dan Golkar
KOMENTAR

TILIK.ID,  Jakarta — Survei LSI Denny JA merekam elektabilitas partai-partai politik sejak Agustus 2018 hingga Desember 2018. PDIP adalah partai politik yang paling potensial menjadi juara di pemilu 2019. Jika terjadi, untuk pertama kali sejak pemilu 1999, ada partai politik yang akan menjadi juara di dua pemilu berturut-turut.  Partai Gerindra dan Partai Golkar berkompetisi merebut runner up.

Demikian salah satu temuan survei Lingkaran Survei Indonesia – Denny JA (LSI Denny JA).  Rilis survei ini adalah rangkuman dari 5 (lima) survei terakhir LSI Denny JA sejak Agustus hingga Desember 2018. Setiap bulannya (Agustus-Desember) LSI Denny JA membuat survei nasional menggunakan 1200 responden. Survei diadakan di 34 provinsi di Indonesia dengan menggunakan metode multistage random sampling. Margin of error setiap survei tersebut adalah +/- 2.9%. 

“Kami juga melengkapi survei dengan penelitian kualitatif dengan metode analisis media, FGD, dan in depth interview. Survei ini dibiayai sendiri oleh LSI Denny JA,” kata peneliti LSI Denny JA 
Ardian Sopa didampingi Rully Akbar dalam konferensi pers hasil-hasil survei LSI Denny JA di Graha Rajawali Jakarta Timur, Selasa. 

Menurjt Ardian, dalam lima kali survei berturut-turut sejak Agustus hingga Desember 2018, PDIP selalu kokoh di posisi pertama. Angka elektabilitasnya selalu di atas 20 persen, dan jauh meninggalkan elektabilitas partai-partai lainnya. 

Pada Agustus 2018, elektabilitas PDIP sebesar 24.8 persen. Pada September 2018, elektabilitas PDIP sebesar 25.6 persen. Pada Oktober 2018, elektabilitas PDIP sebesar 28.5  persen. Pada November 2018, elektabilitas PDIP sebesar 25.4 persen. Dan pada Desember 2018, elektabilitas PDIP sebesar 27.7 persen. 

“Elektabilitas PDIP memang terlihat masih fluktuatif dari bulan ke bulan. Namun elektabilitas partai berlambang banteng ini tetap kokoh di atas 20 persen,” katanya.

Mengapa LSI Denny JA berani menyatakan bahwa PDIP paling potensial menjadi juara di pemilu 2019? Jika mengacu pada data saat ini, maka ada dua alasan paling menguatkan kesimpulan di atas. Pertama, dalam 5 bulan terakhir, survei yang merekam elektabilitas partai-partai, selalu menempatkan PDIP pada posisi pertama dengan elektabilitas diatas 20 persen. 

Kedua, jarak elektabilitas antara PDIP dengan partai di bawahnya yaitu Partai Gerindra, selalu konsisten di atas 10 persen.

 Jika posisi PDIP saat ini (survei Agustus-Desember 2018) bertahan hingga pemilu April 2019 nantinya, maka PDIP adalah partai pertama yang berhasil keluar dari “kutukan” juara bertahan. 
 
 “Dan menjadi partai pertama yang memenangi pemilu dua kali berturut- turut pada pemilu era reformasi,” ujarnya.

Perebutan posisi runner-up dalam pemilu 2019, cenderung hanya terjadi pada dua partai yaitu Partai Gerindra dan Partai Golkar. Sejak survei Agustus 2018 hingga Desember 2018, Partai Gerindra konsisten berada di urutan kedua elektabilitas partai. Namun angka elektabilitas Partai Gerindra tak berjarak jauh dengan partai Golkar yang juga konsisten berada di posisi ketiga sejak Agustus 2018. 

Selisih elektabilitas kedua partai hanya dibawah 5 persen. Selisih terkecil kedua partai terlihat di survei Septermber 2018. Ketika itu, elektabilitas Partai Gerindra sebesar 11.5  persen, dan Partai Golkar sebesar 10.6  persen.  

“Artinya selisih kedua partai tidak sampai 1 persen, persisnya selisih hanya 0.9 persen. Pada survei terakhir Desember 2018, selisih kedua partai hanya 2.9  persen, di mana Gerindra 12.9 persen dan Golkar 10.0 persen,” katanya.

Partai manakah yang akan merebut posisi runner-up? Partai Gerindra adalah partai yang kuat asosiasinya dengan capres Prabowo Subianto. Kuatnya asosiasi Prabowo membuat Gerindra diuntungkan karena bisa memperoleh berkah elektoral dari Prabowo (coattail effect). 

“Namun sebagai partai senior dan berpengalaman, Partai Golkar memiliki sumber daya caleg dan mesin partai yang mumpuni. Namun catatannya adalah Partai Golkar harus menemukan “sumber pendongkrak” yang lain agar mampu mengimbangi dan berkompetisi dengan Gerindra merebut posisi runner-up,” beber Ardian Sopa.

Dikatakan, tanpa ada sumber pendongkrak baru yang sifatnya big bang, Partai Golkar akan sulit bersaing dengan Partai Gerindra. Dalam lima kali survei terakhir LSI Denny JA, belum sekalipun Partai Golkar mampu menyalip Partai Gerindra. 

LSI Denny JA juga merekam perebutan posisi keempat dalam Pemilu 2019. Dua parpol berpotensi jadi posisi keempat, yakni  PKB atau  Partai Demokrat. 

Dalam 5  kali survei sejak Agustus 2018, PKB selalu berada di posisi empat, diikuti oleh Partai Demokrat yang konsisten berada di posisi kelima. Meski berbeda peringkat, namun jarak elektabilitas kedua partai ini pun tak jauh. 

Selisih elektabilitas kedua partai hanya dibawah 5 persen. Selisih terdekat kedua partai terlihat di survei Agustus 2018. Saat itu, elektabilitas PKB sebesar 6.7 persen dan elektabilitas Partai Demokrat sebesar 5.2 persen. Artinya selisih kedua partai hanya sebesar 1.5 persen.

Di sisi lain, seperti Golkar, Partai Demokrat harus memunculkan sumber pendongkrak baru. Pamor personal SBY memang masih cukup kuat. Namun pamor personal tersebut tak berkorelasi signifikan dengan elektabilitas partai Demokrat. Sosok AHY sebagai figur baru memang potensial,” namun AHY belum sepopuler SBY. 

“Keyakinan publik terhadap kapabilitas AHY pun belum kuat. Selain itu AHY belum menjadi figur sentral Partai Demokrat,” katanya.

Lalu bagaimanakah peluang partai-partai baru? Ada 4 (empat) partai baru dalam pemilu 2019 nanti. Keempat partai tersebut adalah Perindo, PSI, Partai Berkarya dan Partai Garuda. 

Partai Perindo paling menonjol dari keempat partai baru tersebut. Elektabilitas Partai Perindo masih bergerak naik turun antara 1-3 persen. 

“Sementara elektabilitas ketiga partai lainnya yaitu PSI, Partai Berkarya, dan Partai Garuda, selalu dibawah 1 persen atau masuk dalam kategori parnoko, partai nol koma,” ujarnya.

Jika menghitung peluang, Partai Perindo punya potensi lebih besar lolos PT dibandingkan dengan ketiga partai lainnya. Secara statistik, dengan elektabilitas 1- 3 persen (elektabilitas Perindo Agustus 1.7%. 

Jika ditambah dengan margin of error survei 2.9 persen, maka Partai Perindo bisa mencapai batas minimal 4 persen. Selain itu ada sejumlah sumber daya partai yang bisa dioptimalkan untuk mendongkrak suara partai. 

Namun demikian, diantara partai baru tersebut, Partai Berkarya dan PSI mampu tampil sebagai partai gagasan. Bahkan narasi gagasan dari kedua partai ini lebih menonjol dari partai-partai lama. Tak ada narasi gagasan kuat yang muncul dari partai-partai lama. Partai Berkarya konsisten untuk mempromosikan gagasan keunggulan Orde Baru. 

Partai ini berusaha memperoleh simpatik publik dengan menjual “kejayaan” Orde Baru. Sementara PSI muncul sebagai partai anak muda yang modern dan progresif. PSI bahkan berani muncul mempromosikan kultur modern barat soal agama dan wanita. Misalnya dengan kampanye menghapuskan Perda Syariat dan menentang poligami.

“Selama masa kampanye hingga kini, ada tiga partai yang hampir tak pernah terdengar kiprahnya. Ketiga partai tersebut adalah Partai Hanura, PKPI dan PBB,” kata Sopa.

Ketiga partai ini, tambahnya, adalah partai lama. Namun tak ada gagasan ataupun terobosan- terobosan kampanye yang terdengar masif di publik selama 5 bulan terakhir.  Ketiga partai ini termasuk partai yang terancam tidak lolos PT. 

“Posisi partai-partai menengah lainnya seperti Nasdem, PKS, PAN, dan PPP masih belum aman. Dari lima survei terakhir LSI Denny JA, elektabilitas keempat partai ini masih sulit menembus angka 4 persen,” katanya.

“Namun keempat partai ini adalah partai lama yang punya kekuatan, pengalaman dan sumber daya masing-masing untuk bisa lolos PT,” kata Ardian Sopa. (lms)

Fahri Hamzah: Masalah Menumpuk di Karpet Istana

Sebelumnya

PKB Sukses di Pemilu, Muhaimin Terpilih Lagi di Muktamar Bali

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Politik