KPK: Indikasi Keterlibatan Menpora Signifikan
Menpora Imam Nahrawi
KOMENTAR

TILIK.ID, Jakarta —  Komisi Pemberantasan Korupsi  (KPK) tidak akan main-main dalam kasus dana hibah Kemenpora ke KONI. KPK menyatakan tidak akan tebang pilih dalam kasus ini.

KPK mengaku telah mengendus dugaan keterlibatan Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi,  terkait skandal akal-akalan penyaluran dana hibah dari Kemenpora kepada KONI tahun anggaran 2018.

Komisioner KPK Saut Situmorang mengatakan, merujuk penetapan tersangka gratifikasi terhadap tiga pejabat Kemenpora dan dua petinggi KONI, ada indikasi keterlibatan Menpora.

“Saya belum bisa simpulkaan itu, tetapi indikasinya memang peranan yang bersangkutan (Menpora) signifikan ya,” ujar Saut di kantornya, Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu pekan lalu. 

Dia memastikan KPK tidak akan tebang pilih. Bila buktinya cukup seiring penyidikan ini, KPK akan langsung menjerat Menpora, ataupun petinggi KONI yang lainnya.

“Kekuatan buktinya yang paling penting. Tapi yakinlah, sekarang kalau buktinya cukup karena istilah ‘dan kawan-kawan’ (pada penetapan tersangka) akan ke mana-mana,” kata Saut.

Lima tersangka, yakni diduga sebagai pemberi gratifikasi Ending Fuad Hamidy selaku Sekretaris Jenderal KONI, dan Jhonny E selaku Bendahara Umum KONI.

Sementara itu, diduga sebagai penerima gratifikasi, Mulyana selaku Deputi IV Kementerian Pemuda dan Olahraga, Adhi Purnomo selaku PPK sekaligus tim verifikasi Kemenpora untuk Asin Games 2018 dan kawan-kawan, serta Eko Triyanto selau Staf Kemenpora dan kawan-kawan.

Diduga Adhi Purnomo dan Eko Triyanto terima pemberian sekurang-kurangnya Rp 318 juta dari pejabat KONI terkait hibah Pemerintah kepada KONI melalui Kemenpora.

Adapaun Mulyana, diduga menerima uang dalam ATM dengan saldo sekitar Rp 100 juta terkait penyaluran bantuan dari pemerintah melalui Kemenpora kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Tahun Anggaran 2018.

“Diduga sebelumnya Mulyana juga telah menerima pemberian-pemberian lainnya,” kata Saut.

Peneriman tersebut yakni pada April 2018, menerima 1 mobil Toyota Fortuner, kemudian Juni 2018 menerima sebesar Rp 300 juta dari Jhony. Pada September 2018 menerima 1 unit smartphone Samsung Galaxy Note 9.

Saut menambahkan dana hibah dari Kemenpora untuk KONI yang dialokasikan sebesar Rp 17,9 miliar. Di tahap awal, diduga KONI ajukan proposal kepada Kemenpora untuk mendapatkan dana hibah tersebut.

Diduga pengajuan dan penyaluran dana hibah sebagai “akal akalan” dan tidak didasari kondisi yang sebenarnya. Sebelum proposal diajukan, diduga telah ada kesepakatan antara pihak Kemenpora dan KONI untuk mengalokasikan fee sebesar 19,13 persen dari total dana hibah Rp17,9 miliar, yaitu sejumlah Rp3,4 miliar. (lms)

Pakar Hukum Tata Negara: Chief Law Enforcement Bukan Bentuk Intervensi

Sebelumnya

Jangan Hubung-hubungkan Peran Yusril soal Pembebasan Ba’asyir

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Hukum