Survei LSI Denny JA, Enam Isu Untungkan Jokowi, Prabowo hanya Empat
Rully Akbar dan Ikrama Masloman dalam jumpa pers hasil survei LSI Denny JA, Kamis (6/12).
KOMENTAR

 TILIK.ID, Jakarta— Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA kembali merilis hasil surveinya dengan tema efek elektoral capres setelah dua bulan kampanye capres-cawapres.

Apa kesimpulan survei LSI Dennyw JA? Ternyata mayoritas tak punya efek elektoral yang signifikan terhadap pemilih secara luas. 

“Namun dari berbagai isu itu, ada 6 yang menguntungkan Jokowi, sementara yang menguntungkan Prabowo hanya 4 isu,” kata peneliti LSI Denny JA dalam konperensi pers hasil survei lembaganya, di Kantor LSI Rawamangun, Kamis (6/12).

Menurut Rully, isu-isu tersebut lebih banyak menjadi sensasi dalam diskursus publik selama masa kampanye dan tak banyak berpengaruh pada naik turunnya suara capres. 

“Dari survei terbaru LSI Denny JA, isu/program yang punya efek elektoral adalah program kedua capres yang langsung bersentuhan dengan pemilih,” katanya.

Survei dilakukan pada tanggal 10-19 November 2018. Survei menggunakan 1200 responden di 34 propinsi, dengan metode wawancara langsung. Margin of error survei ini adalah +/- 2.9 persen. Selain survei, LSI Denny JA juga melengkapi survei ini dengan riset kualitatif dengan metode FGD, indepth interview, dan analisis media.
 
Survei LSI Denny JA menemukan bahwa ada enam isu yang populer dan punya efek elektoral selama dua bulan masa kampanye. Isu yang dikategorikan punya efek elektoral minimal memiliki dua syarat. Syarat pertama adalah isu tersebut didengar di atas 50 persen pemilih. Dan syarat kedua adalah isu tersebut memiliki tingkat kesukaan atau tingkat ketidaksukaan diatas 60 persen dari mereka yang mengaku pernah mendengar isu tersebut.
 
Dari kategori tersebut maka ada enam isu yang punya efek elektoral selama masa kampanye di antaranya adalah Penyelenggaran Asian Games, Kunjungan Jokowi ke Gempa Palu, Kunjungan Jokowi ke Gempa Lombok, Hoax Ratna Sarumpaet, Dollar 15ribu, dan Pembakaran Bendera Tauhid.
 
 Penyelenggaran Asian Games yang diketahui oleh 85.1 persen pemilih, punya efek yang berbeda terhadap kedua capres. Penyelenggaran Asian Games membuat 36.4 persen pemilih yang tahu program tersebut akhirnya lebih mendukung Jokowi-Maruf. 
 
 “Sementara 24.0 persen menyatakan lebih mendukung Prabowo-Sandi. Artinya untuk isu ini, Jokowi-Maruf surplus 12.4 persen dari Prabowo-Sandi,” kata Rully lagi. 

Kunjungan Jokowi ke gempa dan tsunami Palu juga membuat adanya surplus sentimen positif terhadap Jokowi. Dari mereka yang tahu isu ini, sebesar 49.4 persen menyatakan lebih mendukung Jokowi-Maruf. Sementara sebesar 16.1 persen menyatakan lebih mendukung Prabowo-Sandi. Jokowi-Maruf memiliki surplus 33.3 persen dari isu ini. 

Isu dollar 15ribu juga punya efek yang berbeda kepada kedua capres. Dari mereka yang tahu isu ini, sebesar 16.3 persen menyatakan lebih mendukung Prabowo-Sandi. Dan sebesar 14.1 persen menyatakan mendukung Jokowi-Maruf. Dalam isu ini, Prabowo-Sandi mengalami surplus sebesar 2.2 persen.

Isu pembakaran bendera tauhid (HTI) yang diketahui oleh 53.7 persen pemilih, sebesar 10.0 persen menyatakan mendukung Jokowi-Maruf. Dan sebesar 12.8 persen menyatakan lebih mendukung Prabowo-Sandi. Artinya Prabowo-Sandi mengalami surplus positif di isu ini sebesar 2.8 persen. 
 
Namun demikian, kata Rully, untuk menentukan isu atau program mana yang paling kuat memberikan efek elektoal, maka isu tersebut harus diukur dengan tingkat popularitasnya. Caranya adalah dengan mengalikan surplus masing-masing capres pada setiap isu yang diuji dengan popularitas isu tersebut.
 
“Dengan formula tersebut, maka diperoleh bahwa untuk pasangan Jokowi-Maruf, isu yang paling tinggi (rangking 1) efek elektoralnya adalah program kunjungan Jokowi ke korban gempa dan tsunami Palu. Isu ini dikenal oleh 75.5 persen pemilih. 

“Dan untuk isu ini, Jokowi mengalami surplus positif sebesar 33.3 persen. Dan jika dikalikan antara popularitas dengan surplus dukungan maka angkanya adalah sebesar 25.1 persen,” katanya.

Berikutnya adalah isu pengelenggaran Asian Games. Penyelenggaran Asian Games berada rangking ke-2 isu yang paling besar pengaruhnya terhadap elektoral Jokowi. Jika dikalikan antara mereka yang tahu isu ini yaitu sebesar 85.1 persen dan surplus dukungannya sebesar 12.4 persen, maka isu ini menempati peringkat dua dengan angka pengaruh sebesar 10.6 persen. 

 Di rangking ke-3 adalah kunjungan Jokowi ke gempa Lombok. Angka pengaruh isu ini adalah 9.2 persen. Berikutnya berturut-turut isu yang berpengaruh secara elektoral adalah antara lain hoax Ratna Sarumpaet, isu tampang Boyolali, dana bantuan 2 milliar dari rapat tahunan IMF, rapat tahunan IMF, isu the new Prabowo, Prabowo tidak akan impor, Yusril menjadi pengacara Jokowi dan politik sontoloyo.

“Sementara isu yang berpengaruh untuk Prabowo di antaranya adalah kunjungan Prabowo ke korban gempa Lombok,” ujarnya. 

Kunjungan ini punya efek elektoral ke Prabowo-Sandi dengan angka sebesar 4.2 persen dan berada pada peringkat 1, isu yang paling berpangaruh terhadap dukungan Prabowo-Sandi selama masa kampanye. Berikutnya adalah isu pembekaran bendera HTI dan isu kenaikan nilai tukar dollar menjadi  Rp 15ribu terhadap rupiah.
 
Isu dan program yang menjadi perhatian publik secara luas dan punya efek elektoral yang terekam dalam survei diatas, ternyata berbeda dengan isu/program yang terekam dalam media monitoring yang dilakukan oleh LSI Denny JA. 

Tentunya survei dan media monitoring adalah metode yang berbeda. Salah satu perbedaan utamanya adalah survei merekam opini publik terhadap sebuah isu dengan menggunakan sampling. 

Sementara media monitoring adalah metode untuk merekam frekuensi pemberitaan sebuah isu dengan menggunakan aplikasi tertentu. Survei memang lebih akurat dalam membaca pengaruh sebuah isu terhadap pemilih secara luas. Sementara media monitoring lebih berfungsi untuk membaca sejauh mana sebuah isu dipercakapkan di berbagai media.
 
Hasil media montoring yang dilakukan di dalam strategic/situation room LSI menunjukan bahwa ada 10 isu yang paling menonjol selama masa kampanye dua bulan. 

Kesepuluh isu tersebut adalah antara lain (diurutkan berdasarkan frekuensi pemberitaan): Hoax Ratna Sarumpaet, pembakaran bendera tauhid, tampang Boyolali, politik sontoloyo, politik genderuwo, 4 tahun kepemimpinan Jokowi, janji esemka, games of thrones Jokowi, Sandiaga lompat makam, dan Jokowi gratiskan Suramadu.

“Dari 10 isu yang berkembang di media sosial selama 2 bulan, ada 6 isu yang untungkan Jokowi dan ada 4 isu yang untungkan Prabowo,” beber Rully.

Enam  isu yang untungkan Jokowi adalah hoax Ratna Sarumpaet (surplus 57 persen), games of thrones/winter is coming (surplus 29 persen), tampang Boyolali (surplus 20 persen), Jokowi gratiskan Suramadu (surplus 13 persen), 4 tahun kepemimpinan Jokowi (surplus 12 persen), dan Sandiaga lompat makam (surplus 11 persen). Kasus hoax Ratna Sarumpaet memberikan surplus isu positif paling tinggi untuk Jokowi di media sosial.
 
Sementara 4 isu yang untungkan Prabowo adalah antara lain, pembakaran bendera tauhid/HTI (surplus 29 persen), politik sontoloyo (surplus 5 persen), politik genderuwo (surplus 1 persen), dan janji esemka (surplus 6 persen). 

“Kasus pembakaran bendera tauhid/HTI paling banyak memberikan surplus isu positif terhadap Prabowo-Sandi di media sosial,” katanya. (lms)

Akademisi Khawatir Terjadi Pembusukan Demokrasi

Sebelumnya

Sekjen Parpol Koalisi Prabowo-Sandi Datangi KPU

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Politik