Jalan Sehat, Silaturahmi dan Cerita HMI
KOMENTAR

TILIK.ID, Jakarta— Komunitas Jalan Sehat yang tergabung dalam KAHMI Forever Jalan Sehat (KFJS) kembali menjalankan agendanya,  yakni silaturahmi dengan jalan sehat bersama edisi  rutin, Sabtu (10/11).  Sejumlah pegiat jalan sehat alumni HMI ini tampak bersemangat olahraga.

Dalam jalan sehat kali ini, pendiri KFJS Afni Achmad tidak hadir karena bertepatan dengan urusan domestiknya. Namun pendiri lainnya, yakni Tigor Sihite tetap hadir. 

Komaruddin Rahmat, Martunus, Tonas, Dhifla  Ola Wiyani, Geisz Chalifah, Djabir Mawardy, Helwa Alkatiri, Kasma, Farida Sihite, dan lainnya tak ketinggalan berjalan. 

Ada yang lain kali ini. Pada Sabtu-sabtu sebelumnya, tikar biru yang selalu menjadi tempat lesehan ketinggalan di mobil Tigor Sihite. Rupanya salah naik mobil. Tikar ada di kendaraan yang satunya. 

Tidak adanya tikar tidak menghalangi untuk bersilaturahmi. Tidak ada lesehan kali ini. Kumpul-kumpul sambil mencicipi cemilan terpaksa mengambil tempat di kedai es dan kelapa muda yang terletak dekat pintu masuk kawasan Monas.

Di Monas pagi tadi juga cukup ramai. Jajaran Pemprov DKI Jakarta menggelar upacara Hari Pahlawan dengan Inspektur Upacara Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Upacara mengambil area Monas di silang selatan. Cukup dekat dengan area yang biasanya KFJS Jakarta menggelar tikar silaturahmi.  Ratusan pegawai, TNI, Polri, ikut ambil bagian dalam upacara Hari Pahlawan tersebut.

Walau jalan sehat tidak lengkap, tidak dihadiri beberapa pegiat, seperti Afni Achmad, Ade Adam, Sofhian Mile, Ferry M Baldan, Agus Salim, dan Jumrana Salikki, namun diskusi tentang banyak hal tetap jalan. 

Seperti biasanya, usai jalan sehat,  ada sesi diskusi terbuka dan bersifat informal, termasuk penyampaian kategori informatif, tetap digelar. Alumni HMI itu dua sisi. Sedikit tahu tentang banyak dan banyak tahu tentang sedikit. 

Nah, diskusi-diskusi usai jalan sehat inilah berciri kedua sisi tadi. Maka jangan heran kalah pembicaraan menjadi gado-gado. Habis bahas politik, bahas agama. Habis bicara kesehatan lanjut bahas isu aktual. Begitulah.

Pagi tadi cukup menarik. Dominan bicara anak-anak mahasiswa yang sudah enggan masuk HMI. Beberapa anak aktivis HMI malah balik mencemoh organisasi yang pernah menempa dan membesarkan orang tuanya itu.

“Anak-anak HMI yang suka bakar-bakar ban itu kan, yah”, kata sang anak kepada orang tuanya yang memintanya masuk HMI.

Pandangan anak-anak mahasiswa ini jumlahnya cukup banyak, terutama di kampus-kampus besar dan ternama.  Itu akibat kebutuhan mahasiswa tidak lagi bisa diakomodir oleh HMI. 

Generasi milenial sekarang ini bisa memenuhi kebutuhannya dari teknologi informasi yang begitu pesat. Metodologi latihan kepemimpinan bisa diunggah lewat internet. Padahal kekuatan pengkaderan HMI sejak dahulu kala ada pada metodologinya. 

Bagaimana teknik memecahkan masalah, problem solving, diajarkan filosofi keilmuan, jendela jauhari, dan analisis SWOT, atau metode tulang ikan. Semua itu,  bagi generasi milenial tidak penting. 

Diperlihatkan bagaimana hebatnya tokoh-tokoh HMI sebagai akibat hebatnya pengkaderan kepemimpinan di HMI pun  tidak mempan. Bahkan berbalik mencemoh ketika melihat tokoh-tokoh HMI dipenjara karena korupsi. 

Geisz Chalifah adalah mahasiswa yang dulu juga enggan masuk HMI. Bukan karena apa, karena LK I nya lama. Satu minggu. “Aku terpaksa saja masuk diajak yang lain,” katanya. 

Namun diskusi menarik ketika Geisz Chalifah mengidentifikasi kampus-kampus di Jakarta yang menjadi terkenal karena HMI.

Kata Geisz, Jayabaya dulu kampus rusak. Preman. HMI selalu jadi korban premanisme mahasiswa. Banyaknya korban, membuat anak-anak HMI bersatu. Bursah Zarnubi ditunjuk paling depan. Kompak.

“Hai Doni (jagoan kampus waktu itu).. Ada 5000 anak HMI di belakang saya. Satu lu kena, lima ribu yang mengejar kamu,” kata Bursah saat itu seperti diceritakan Geisz. 

Dari situ Jayabaya makin diminati mahasiswa. HMI berkembang, dan menjadi kampus swasta dengan mahasiswa yang hebat, berani, dan lahir banyak tokoh-tokoh HMI. 

“Dulu Trisakti tidak ada apa-apanya. Di sana hanya dikenal lipstik dan velg. Begitu peristiwa Semanggi, anak Trisakti tewas, apa gak salah?” kata Geisz.  

Banyak cerita dalam silaturahmi KFJS Jakarta di Monas pagi tadi. Termasuk cerita Tigor Sihite tentang fenomena mahasiswa ITB di jamannya. Diskusi informal  akan dilanjutkan Sabtu pekan depan.  (lms)

Jalan Sehat Monas dan Rencana Cileutuh

Sebelumnya

Jalan Sehat KFJS Jakarta dan Duka Keluarga Darul Siska

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Kesehatan