Musibah (Lion Air) dan Kekuatan Harapan Kita
Moh Bahri
KOMENTAR

Oleh: Moh.Bahri, SPd.I, SH 
(Pengusaha Muda Muslim Banten)

SETIAP mahluk hidup memiliki bioritme. Siklus atau perputaran kondisi berubah saban waktu. Tak ada yang ajeg. Bahasa umum menyebut, kadang di atas, terkadang juga di bawah. Hanya saja, sebagai mahluk ciptaan Tuhan, kita memiliki keterbatasan dalam mendeteksi kapan sirkulasi kehidupan itu tiba.

Di sisi lain, jenis, kondisi, dan rupa-rupa peristiwa yang menghampiri kita juga kerap tak siap kita hadapi. Musababnya, manusia kerap lebih condong hanya bersedia menerima sesuatu yang menyenangkan, atau membahagiakan di- rinya. Sementara untuk sesuatu yang pahit, getir, dan menyedihkan, bukan hanya tak siap menerima, tetapi bahkan merutuk.

Padahal semua faktor di sekeliling kehidupan kita memberi ajaran penting. Alam, misalnya, mengajari bahwa setelah badai dan petir, akan muncul pelangi. Gunung yang meletus juga akan memberikan kesuburan setelah be- berapa tahun paska peristiwa. Setelah jalan menanjak, pasti ada jalan menurun.
Tak terhitung pula sabda, petunjuk, nasihat, dan filosofi hidup yang mengajarkan agar orang menerima dan tabah terhadap perubahan nasib.

Sebagai Muslim, kita wajib bersandar pada ketentuan Allah, bahwa musibah jenis apapun dan kepada siapapun, tak akan terjadi tanpa izin Allah (QS: At Thagabun Ayat 11).

Musibah juga sebagai ujian bagi keimanan. Seseorang tak cukup hanya menyatakan dirinya beriman. Maka Allah berfirman: 

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan ke- padamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang
yang sabar (QS Al Baqarah 155).

Kegetiran yang melanda memang terasa
menendang dada. Namun bukan untuk menghancurkan diri seraya melontarkan sumpah serapah kemarahan. Mahatma Gandhi pernah mengatakan: kita berhak untuk marah, tetapi tidak wajib meluapkan amarah.

Filosofi kuno dalam tradisi Tiongkok ada pepatah untuk belajar dari alam. Air yang mengalir akan lebih jernih daripada air yang tergenang membeku. Kemurnian berlian memancar justru setelah ditempa oleh keganasan alam selama ribuan tahun, lalu kemudian ditempa oleh manusia, dengan dibakar, dipotong, diukir, dan dibentuk.

Intinya, kita mendefinisikan musibah sebagai sesuatu yang alamiah. Pilihan terbaik adalah mempetakan alam pikir dan posisi batin yang tepat. Dengan melepaskan ego serta kemarahan yang membuncah tatkala musibah datang.

Tragedi Lion Air

Semua sepakat, tak ada yang menduga dengan peristiwa tragis Lion Air JT 610. Nusantara berduka, bahkan dunia internasional. Sejauh kabar yang beredar, pesawat sesungguhnya dalam kondisi baik (karena pesawat baru)!dan tak ada peristiwa alam luar biasa yang menghantam pesawat. Namun pesawat itu tetap jatuh. Ini membuktikan, betapa tak berdaya manusia di hadapan Sang Pencipta.

Batin kemanusiaan kita pasti terenyuh. Doa dan bantuan sebisa mungkin kita sampaikan. Namun yang lebih penting dari itu adalah memetik butiran hikmah kehidupan.

Pertama, soal hidup mati manusia tak ada yang bisa mengatur. Bisa datang kapan saja. Insiden ini mestinya menjadi penabuh kesadaran, agar kita tidak hidup jumawa.  Malaikat El Maut tak memandang posisi, prestasi, dan gengsi. Jika sudah mencapai batas akhir, maka jiwa akan lepas dari raga.

Kedua, hidup memang wajib berada dalam ritme kebaikan, persiapan, dan diisi dengan pelbagai aktivitas positif. Agar kelak di saat ajal menjemput, kita berada dalam kondisi terbaik. Olehnya, kepada para korban (dan juga keluarga yang ditinggalkan), kita wajib mengusung doa. Serta prasangka baik. 

Bahwa para penumpang adalah orang-orang yang sedang berada dalam aktivitas kebaikan. Berita menyebutkan, bahwa para korban terdiri dari pelbagai profesi, terutama yang bekerja di Kementrian Keuangan dan Direktorat Pajak. Mereka wafat dalam tugas. Sedang melaksanakan tour of duty. Kaum Muslim meyakini, bahwa salah satu kematian terbaik adalah wafat dalam medan per- juangan.

Ketiga, kita yang hidup, selayaknya menghindari memanfaatkan musibah pihak lain untuk bahan kebatilan. Dalam tradisi gila medsos saat ini, begitu banyak orang-orang yang tega menyebarkan segala yang tidak benar (hoax). Tak jelas motivasi dan keuntungan yang
akan diraih, yang jelas mereka menguarkan pesan-pesan tak hormat. Entah dalam bentuk lelucon, sindiran, olok-olok, bahkan mengait- ngaitkan dengan isu politik.

Keempat, ada berbagai tafsir, soal terjadinya musibah. Namun pilihan terbaik adalah memahami sebagai sebuah teguran dari Sang Khalik. Allah memberikan azab hanya kepada manu- sia-manusia yang ingkar dan berlebihan. Sedangkan musibah, bisa jadi hanya sekedar cobaan, dan kelak akan diganti oleh Allah dengan sesuatu yang lebih baik.

Daya Harapan

Harapan tak boleh pupus hanya karena pelbagai gedoran ujian yang datang. Daya lenting justru penting. Sebaik-baik orang yang jatuh adalah dia yang bisa bangkit kembali. Almarhum dan almarhumah dalam tragedi Lion Air memang telah selesai. Tetapi kita yang hidup tidak bisa surut.

Justru kini saat terbaik untuk bangkit. Betapa banyak musibah yang datang menghumbalang. Dari kapal Ferry yang tenggelam di perairan Danau Toba, Gempa di Lombok, Tsunami dan Tanah Belah di Palu, dan kini Lion Air di perairan Karawang.

Perbanyaklah bersyukur, kita masih diberi kesempatan. Manfaatkan peluang yang diberikan oleh Allah untuk melesatkan potensi yang terbaik. Sebab kita semua tak tahu kapan saat itu akan datang menjelang. Wallahu alam. (*)

2019, Pertempuran Hidup Mati

Sebelumnya

Eksodus Pengusaha Tionghoa ke Kubu Prabowo

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Gelitik