Bagaimana Kabar Mak
KOMENTAR

N. Syamsuddin Ch. Haesy

“APA  kabar ibu bangsa? Semoga dalam keadaan sehat wal afiat dan tak pernah lelah merawat kehidupan, hari ini. 

Bagaimana kegiatan ibu sejak jelang subuh tadi? Sudah jalan sehat pagi ini, kan? 

Semoga semuanya lancar dan menjadi awal hari yang berpengharapan, sehingga siangnya menghasilkan kebajikan, dan malam harinya mengalirkan berkah.” 

Kalimat di atas, saya pakai tadi pagi, ketika menelepon seorang ibu, sahabat saya sejak belia. 

Di ujung telepon, sahabat saya ngakak, nyaris terpingkal-pingkal. 

“Semalem abis mabok di mana?” tanyanya, sambil melanjutkan tawanya. “Panggil gue emak..,” tukasnya, aksentuatif. 

Sekarang giliran saya yang tertawa.
“Kenapa emak? Bukannya dikau biasa dipanggil ibu bangsa oleh anak, menantu, mahasiswa, staf di kantor, dan para dosen?” sambung saya. 

Dia kembali ngakak. Bahaknya terdengar ‘ramai’ di telepon bimbit saya. 

Lantas dia bicara. Belakangan dia sering terheran-heran menyaksikan sikap lebay (berlebihan) banyak orang orang di negeri ini. 

Teramat panjang waktu, melintasi fase-fase peradaban, mulai dari peradaban agraris, industri, informasi, dan kini era peradaban konseptual, kita terbiasa memanggil perempuan dengan rasa hormat yang dalam, dengan sebutan mak, emak, amak, omak, mamak, uma, umak, ibu, nyai, dan kemudian umi. 

Ada juga yang manggil mak’é, buné, dan bahkan mboké yang tak sedikitpun mengurangi harkat, derajat, dan martabat.     

Ada dimensi kedalaman yang mengalir pada setiap istilah yang biasa kita pergunakan sebagai kata ganti untuk seorang perempuan yang sudah begitu berarti dan bermakna bagi kita. 

Tapi, lantaran bangsa ini pernah dijajah bangsa asing, istilah-istilah itu berubah menjadi mama, mami, mom, mem, dan sebagainya, yang biasa dipakai di kalangan amtenaaren, yang bekerja dengan orang-orang Belanda. 

Istilah-istilah yang melekat dan dipakai di kalangan isteri para amtenaaren, itu untuk menunjukkan status sosial atau symbol status. Akan halnya istilah-istilah yang khas dan hidup subur di persada nusantara ini, tetap mengalirkan egaliterianisma, ekuitas, dan ekualitas. 

Mak, emak, uma, umak, omak, amak, mamak, dan istilah lainnya yang senafas dengan itu, dipengaruhi oleh peradaban silam, bermula dari kata atma yang kemudian jelma menjadi sukma, yang berarti jiwa, nyawa. Karena ibu adalah ‘segara nyawa.’  Maklum, Nusantara masa lampau sangat dipengaruhi oleh bahasa sanskerta. 

Jauh lebih dalam, katimbang indun yang kemudian menjadi indung, dari kosakata bahasa yang sama. Akan halnya umi bermula dari ummi, dalam bahasa Arab yang di dalamnya mengalir fungsi pengampuan. 

Tak perlu dipersoalkan istilah-istilah itu sebagai refleksi multikulturalisma dan pluralisma yang sekaligus menunjukkan keragaman yang terintegrasi, sebagai kata ganti atas istilah ibu. Belakangan istilah ibu, persisnya sejak Indonesia melintasi modernitas, tak berhenti sebagaimana istilah itu dipakai dalam kehidupan sehari-hari. 

Pada istilah itu melekat orientasi baru sosiologis, dari populis modes yang merakyat, menjadi beurocratiq modes. Misalnya, Ibu Negara, Ibu Gubernur, Ibu Bupati, Ibu Walikota, Ibu Camat, Ibu Kades, Ibu Menteri dan sebagainya. 

Makna ibu yang semula terkait dalam konteks relasi sosial sangat fungsional, berubah menjadi struktural. Hal ini, sungguh dinikmati oleh mereka yang sedang ‘genit’ dengan reorientasi struktural, neofeodalism. 

Sahabat saya, yang guru besar filsafat budaya, itu lantas bilang, yang mesti dipersoalkan adalah kegenitan untuk mengubah-ubah sesuatu yang menjadi bagian dari populis modes, orientasi perkhidmatan kepada rakyat, kepada kaum awam, yang sungguh merupakan ‘ibu’ yang sesungguhnya. 

“Dikau seperti tak paham, di negeri jiran, Ibu Pejabat itu maknanya lain..,” ujar sahabat saya itu. Dari suaranya, saya membayangkan, ketika mengucapkan itu dia sedang menahan tawa. 

Ya, di jiran Malaysia, “Ibu Pejabat” itu maknanya kantor pusat. Akan halnya ibu, sebagaimana yang kita maksudkan dalam tulisan ini, adalah Mak atau Bonda. 

Jadi, berhentilah bergenit-genit yang tak substantif. Melayang ke alam ilusi, dan kemudian jatuh terperosok ke dalam jebakan fantasi. Kembalilah ke alam realitas budaya bangsa ini, yang sungguh beragam. 

“Baik.. Mak..,” ujar saya memungkas perbincangan di telepon bimbit. 

“Nah.. gitu.. dahsyat itu.. Daya emak-emak bisa merontokkan kepongahan.. Karena emak-emak hanya akan bergerak dan bertindak, kalau dia melihat sudah ada sesuatu yang tak wajar di lingkungannya..,” ujar dia.
Jadi? 

Bagaimana kabar emak-emak republik ! Teruslah berjuang memuliakan kaum perempuan, para empu kehidupan.

(dago pakar, 16 september 2018)

Jangan Penjarakan Sukses Masa Depan

Sebelumnya

Saya Semakin Pandir dan Dungu

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Imaji Sem